Ya itu saja

By | Agustus 6, 2019

Imajiku mungkin tidak akan pernah terungkapkan. Karena sebenarnya aku hanya ingin berbicara kepada diri sendiri, berdiskusi dengan angin,dengan nyamuk-nyamuk yang mencari makan, dengan malam yang pekat, dengan detik jam, dengan dering handphone yang sesekali berbunyi, dan dengan bau buku yang menyengat hingga ke rongga hidung, buku yang terakhir kali kuambil darimu dengan wajah yang memelas itu, imajiku tentang dirimu.


Dirimu,yang tidak pernah ku mengerti. Dirimu, racun yang membunuh perlahan. Dirimu, yang ku reka dan ku cipta. Sebagian diriku menginginkan agar kau datang membenciku, hingga kau muak dan mendekati gila, menertawakan segala kebodohanmu, kekhilafanmu untuk sampai jatuh hati kepadaku, dan menyesalkan setiap kali kita berjumpa. Lalu akan ku kirimkan pesan singkat dan postingan tak penting. Semua tulisanku mulai dari kiasan sebaris sampai doa berbait-bait. Dan berkerutlah pipimu karena geli,Semoga dirimu pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupku, hidupmu pasti akan lebih mudah.


Namun sebelah diriku menginginkan agar kau datang menjemputku, dan untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran akan cinta. Betapa sebelah dariku percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubazir, segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas.


Kalau saja hidup tak berevolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja ruang dan waktu mampu stagnan disatu titik, maka tanpa ragu aku akan memiih satu detik bersamamu untuk diabadikan.cukup satu detik yang segenap keberadaannya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya, betapa aku rela membatu waktu itu.


Akan tetapi hidup ini cair, semesta ini bergerak, realitas berubah, seluruh dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus arungnya yang manis tapi pahit penghianatan. Kamu, tidak terkecuali tentunya.


Kamu takut
Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu. Akulah bagian terbesar dari hidupmu tapi kamu cemas, sebab kata “DIA” yang bukan aku mulai menggantung hati-hati diatas sana. Cerita kalian, kisah kalian, dan rasa kalian yang tak kutahu. Kupikir konsep itu tertalu sangat menakutkan untuk kulanjutkan.
Sejarah tentang cerita kita memang memiliki tempat yang istimewa dalam hidup kita, tetapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah kita seperti gulali yang tampak padat berisi tetapi ketika disentuh dan terkena udara menjadi kempis yang rapuh.


Skenario perjalanan kita mengharuskan untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya dikepala sebagai sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala sesuatu yang termuntahkan didunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kita seperti pejalan egois yang tersesat dipendakian. Berjalan dengan kompas masing-masing, tanpa ada usaha saling mencocokkan. Sesekali kita bertemu, berusaha saling toleransi atas nama cinta, perjuangan dan pengorbanan yang tak boleh sia-sia. Kupikir aku sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. ku pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Tanpa kenal pagi, siang, malam, bahkan subuh sekalipun. Tapi celakanya tanpa sadar ternyata akulah yang berjuang sendiri. Dan mencintaimu kau jadikan sebagai senjata tertinggimu.


Mungkin lama, baru kamu menyadari bahwa pengalaman merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh perasaan mutual. Lama bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung berapa banyakkah pengalaman nyata yang kita alami bersama ?
Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak menjejak bumi dan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi perdagangan kalkulatif antara dua pihak, ya perdagangan antara aku dan kamu tentunya.


Kupikir cinta butuh dipelihara bukan mencipta perkara. Bahwa di dalam sepak terjangnya yang serba-serba menyejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti kentut yang tahu-tahu meledak entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan disetiap langkah kaki, merekatkan jemari dan berjalanlah bergandengan, karena cinta adalah mengalami.


Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan sebab lebih daripada itu, cinta adalah aku dan kamu, interaksi. perkembangan dua manusia agar tetap harmonis.
Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat denyut alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban. Dan aku tahu, itulah yang bisa kamu berikan kini.


Hingga akhirnya…
Jangan heran kalau aku menangis sejadi-jadinya.


Kamu, yang ternyata tidak pernah menyimpan gambar rupaku, pun tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambutmu yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh dan bau ketek yang ku hafal betul temperatur dan wanginya. Kupikir kau tak pernah memikirkan hal konyol semacam itu.
Dan aku hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan angin malam yang menusuk tulang, dengan malam yang pasrah digusur pagi,dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa sebab tak dapat jatah makan malam, dengan detik jam dinding yang tak bosannya berputar, dan dengan suara handphone yang gagu karena habis daya.
Sampai pada halaman cerita imajiku ini, aku yakin kamu akan paham, atau setidaknya setengan memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendirian.Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanku bahwa ini telah usai. Tidak ada kata, peluk cium, atau langkah kaki yang beranjak pergi, yang mampu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama. Atau sebaliknya tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata “JANGAN” yang mungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat, akan membuatku menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.


Aku tersadar inilah perpisahan paling sepi yang pernah ku alami.
Ketika cerita ini tiba dititiknya yang terakhir, masih ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tak usai. Bagian dari dirimu yang merasa paling bertanggungjawab atas semua yang sudah kita bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedahsyat itu. Dirimu yang mini,dirimu yang kekanak-kanakan, dirimu yang labil, tapi keras kepala, memilih untuk tidak bersama dan mencipta hal baru dengan dia yang tentulah bukan aku, menetap untuk terus menemani dia dan meninggalkan aku yang usang. Dan karena waktu semakin larut, tenagaku pun sudah menyurut. Bagaimana tidak ??? kamu dengan entengnya membiarkan aku pergi dan merawat dia yang baru.


Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu mulai kesepian dan bosan seperti seperti yang terjadi pada kita yang sekarang ini, kamu akan berteriak-teriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputku, tapi sejarah membentengi dirimu dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruan ini, jadilah ia semacam kompas yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk akhirnya, MENEMUIKU.
Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Aku yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang pernah merasakan lantas dibuang sebab sudah menjadi sampah yang tak dapat didaur ulang lagi. Aku aku aku yang pengemis, tolol, dan jalang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *