TERUNTUK NON

By | Juni 17, 2019
Muhammad Rezha Mulya S
Pecinta Novel Pejalan Anarki &
Penikmat Kekosongan

Sebuah sentuhan kata yg dirajut menjadi kalimat-kalimat indah bukan tercipta begitu saja, dia perlu melampaui beberapa dimensi, penciptaan karya seperti ini membutuhkan waktu panjang dikarenakan pergelutan perasaan dan logika tak henti-hentinya membuat saya dilema. Dilema untuk menulis atau mengabaikannya saja, tetapi kata-kata Bung Pramoedya terngiang di kepala saya “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” semoga saya, dirimu dan tulisan ini menjadi satu keabadian, yang fana hanyalah waktu

Puisi ini kuperuntukkan kepada sosok perempuan hebat yg saya panggil dengan sebutan “Non”. Dirinyalah yg membentuk diriku untuk seperti saat ini.

TERUNTUK “NON”

Seperti selalu kagum yg tertulis, dibalas wajah dengan senyum yang manis.

Mencoba menepis sifat yang pesimis, dengan inisiatif membahagiakan yg optimis.

Kalau kata dosen buku itu sumber imu, kata ku sendiri tatapanmu sumber rindu.

Oh iya hampir aku lupa, Aroma tubuhmu juga non

Gowa, September 2018

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *