SENI SEBAGAI ALAT PERJUANGAN ???

By | Juni 18, 2019
Karya Affandi (Foto dokumen oleh Dgi.or.id).jpg

Menurut The Liang Gie “Seni dalam makna luas adalah penggunaan budi pikiran untuk menghasilkan karya yang menyenangkan bagi roh manusia”. Sedangkan Aristoteles “Seni adalah bentuk yang pengungkapannya dan penampilannya tidak pernah menyimpang dari kenyataan dan seni itu meniru alam. Seni secara defenitif tentu saja menghasilkan perbedaan pendapat beberapa tokoh, tetapi secara umum seni adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan dan mampu membangkitkan perasaan orang lain.

Seni terbagi kedalam beberapa bagian, seperti: (1) Seni musik, (2) Seni rupa, (3) Seni Tari, (4) Seni sastra, (5) Seni teater. Dari kelima seni diatas memiliki fungsi bagi individu, yaitu seni sebagai alat pemenuhan kebutuhan fisik dan seni sebagai alat pemenuhan emosional. Untuk sosial seni berguna dalam banyak hal, yaitu: sebagai media agama, media informasi, media pendidikan, media hiburan, dan yang terakhir sebagai alat perjuangan.

Seni sebagai alat perjuangan pada hari ini kita melihat andilnya sangat minim, padahal dalam penelitian Vincentia Marisa Prihatini membuktikan bahwa seniman memiliki peran dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan tahun 1945-1949, sedangkan menurut pencipta lagu Guruh Soekarnoputra, merupakan alat yang dia gunakan untuk berjuang melawan penjajahan. Disini kita harus memahami salah satu fungsi seni yang dilupakan sebagian orang.

Seni sudah berkembang sebelum kemerdekaan negara ini, tetapi awal mula di zaman awal kemerdekan NKRI seni dijadikan sebagai alat perjuangan, pada tahun 1945-1949 merupakan masa revolusi fisik di Indonesia, Indonesia harus melawan agresi militer Belanda ke-2 yang mau menduduki kembali tanah air yang baru saja merdeka, atas dasar inilah menjadi pemantik perjuangan semua kalangan masyarakat dalam melawan agresi militer ini, tidak terkecuali para seniman, mereka mendirikan sebuah perkumpulan dengan pemusatan kegiatan di yogyakarta, sehingga lahirlah beberapa organisasi pada saat itu seperti SIM (Seniman Muda Indonesia).

Mereka membentuk satu wadah yang digunakan untuk berdiskusi dan berkonsolidasi sesama seniman dalam melakukan propaganda melalui karya seni sebagai alat perjuangan. Beberapa karya seni dibuat untuk memassifkan propaganda seperti saja, lagu, lukisan, dan teater. Seniman besar Affandi dengan posternya yang bergambarkan seorang pemuda memegan bendera mera putih dengan tulisan “BOENG, AJO BOENG”, seniman Chairil Anwar, Sudjono dan beberapa seniman tidak hanya propaganda revolusi dari poster-poster anti belanda, tetapi adapula propaganda syair dari Chairil Anwar.

Jadi seni dikala itu hadir sebagai tontonan untuk dinikmati semua kalangan. Seni disini memiliki fungsi ganda seperti pisau bermata dua. Di sisi satu, seni hadir sebagai media hiburan, tetapi disaat yang sama seni juga berfungsi sebagai alat perjuangan di sisi yang berbeda. Perjuangan dilakukan melalui beberapa bentuk karya seni, sehingga seni tidak kehilangan unsur estetikanya, tetapi tetap menyimpan makna perjuangan di dalamnya.

Hari ini kita sudah jarang mencicipi karya seni yang ditawarkan para seniman dengan kandungan makna perjuangan didalamnya. Hanya segelintir orang ataupun kelompok saja yang masih setia menjadikan seni sebagai salah satu alat perjuangan. Padahal seni itu media perjuangan yang sangat indah dan mudah diterima di kalangan masyarakat indonesia karena dibalut dengan seni. Saya sangat berharap seniman indonesia semakin produktif dan inovatif kedepannya dalam menciptakan karya seni yang baru dan tidak melupakan fungsi seni sebagai alat perjuangan dalam menyadarkan masyarakat indonesia.

Tentu saja ini bukan hanya tanggung jawab dari seniman saja, tetapi ini tugas kita bersama untuk menikmati karya anak dalam negeri, terus mensupport seniman kita, dan menghargai karya-karya mereka untuk mengembalikan peran seni sebagai salah satu alat perjuangan. Kita jangan terlalu terlena dengan karya seni dari luar negeri sehingga mebuat kita mengabaikan karya-karya anak bangsa yang tentu memiliki kualitas bagus. Sebelum menutup tulisan ini, saya mengutip perkataan dari Pablo Picasso bahwa “Seni membersihakn jiwa kita dari debu-debu kehidupan setiap hari”.

Andi Amal Syahrani (Aas)
Pekerja dan penikmat seni


Penulis : Andi Amal Syahrani

Editor : Muhammad Rusli

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *